Photo by liburananak.com

About LEGOLAND Johor, Malaysia

 

Petualangan Legoland kami dimulai jauuuuuhh… sebelum taman bermain itu dibuka. Kira-kira tahun lalu, Legoland sudah mulai sounding bahwa dia akan membuka cabang di Malaysia. Well, well, halloo! Sebagai keluarga kecil pecinta Lego, kami pun mulai bergerak mencari informasi dari berbagai situs dan media sosial.

Bulan Juni 2012, Legoland membawa beberapa wahana dan contoh maket berpameran di Gandaria City. Pada pameran ini juga dijual tiket early bird untuk masuk ke taman bermain yang buka September 2012 itu. Hitung punya hitung dengan membeli tiket ini, uang yang bisa dihemat sekitar Rp400.000! Tentu saja kami beli. Meskipun keuangan sedang cekak, kami rasa it’s a good bargain. Tinggal masalah berikutnya, beli tiket pesawat dan bayar hotelnya gimana nih?

Let’s skip cerita yang lebih cocok untuk diajukan ke milis perencana keuangan, daripada ditujukan ke laman Liburan Anak ini.

Bulan November, kami akhirnya menginjak Johor Bahru, Malaysia. Antisipasi dan excitement akan menginjak Legoland berusaha kami tekan, karena ada review kurang bagus dari kerabat yang ke sana pada bulan Oktober. Kebanyakan orang Indonesia terlalu menekankan pada WOW Factor suatu tempat wisata, dan lupa menceritakan sisi minusnya, tapi untungnya review dari kerabat dekat biasanya jujur, dan namanya kerabat, biasanya seleranya tidak beda jauh dengan kita.

Hari itu dimulai dengan rempong mencari bus di terminal Johor Bahru---sesuatu yang agak bodoh, karena kami sebenarnya sudah berada di Johor dua malam, dan ini seharusnya bisa dicari sebelumnya. Setelah beberapa kali tanya sana-sini (satpam-satpam-satpam, sampai SMS ke Jakarta), kami berhasil menemukan bus menuju Legoland, dan setelah menunggu kedatangan bus sejenak, kami naik dengan selamat.

Tiba di Legoland, kami menyusuri selasar terbuka menuju gerbangnya. Eh, buset! Antrean di mana-mana! Kembali salah perhitungan, ternyata hari itu hari libur nasional, Deepavali. Antrean masuk gerbang maupun beli tiket sama panjangnya. Puji Tuhan, kami sudah punya tiket dari Jakarta, jadi hanya perlu mengantre sekali saja. Akibat panjangnya antrean, kami tidak berhasil dapat foto gerbang Legoland yang “bersih”, tapi teteup dong foto!

'

Masuk gerbang, yang dituju pertama adalah… WC! Segala keribetan cari bus dan antre membuat hajat jadi ditahan. WC-nya bersih (meski tidak wangi), dan ada fasilitas meja bayinya. Dan yang terpenting, ada lukisan Lego-nya! Saat kembali ke WC ini sebelum pulang, anak saya berfoto dengan lukisan Lego itu.

Namanya Legoland, di mana-mana ada orang-orangan Lego yang lucu-lucu dan membuat kagum pada orang yang dengan setia dan penuh bakti menempelkan potong demi potong Lego mungil hingga membentuk berbagai orang dalam berbagai profesi dan ekspresi, sampai membentuk patung-patung dalam ukuran superbesar dan pose yang mustahil (Jerapah berjinjit dengan rok tutu? Astagah! Gulungan ombak para pelukis? Lebih astagah lagi!)

Maka mulailah kami merambah Legoland! Kesan pertama… panas! Matahari Johor tentu nggak beda jauh sama matahari Jakarta ya, kalau tidak boleh dibilang lebih garang, jadi topi dan sunblock adalah barang-barang wajib pakai. Pohon-pohon peneduh belum rimbun, dan tidak ada tempat berteduh/kanopi yang memadai.

Kami mulai bingung memilih mainan. Tadinya kami tertarik masuk ke Driving School, tapi ternyata usia dan tinggi badan anak belum memadai, selain antreannya panjang. Akhirnya, anak malah minta main di The Shipyard, yang menurut saya sebetulnya “biasa aja, tempat main anak naik-turun-perosotan, di Jakarta juga banyak”. Tapi akhirnya kami sejenak di sana. Lanjut, mau naik Legoland Express, kembali antreannya mengular. Akhirnya kami ke Lego Rescue Academy yang antreannya moderate. Ternyata kegiatan di wahana ini melibatkan satu keluarga/rombongan (bisa sampai 5-6 orang kalau kecil-kecil bodinya)! Keluarga naik mobil polisi/damkar, lalu menggenjot mobil hingga sampai di depan gedung yang ceritanya kebakaran, lalu lari turun, menggenjot pompa air untuk menyiram “api” di jendela. Bila api padam, muncul gambar orang-orangan Lego. Awalnya anak agak rewel, bersikukuh maunya mobil damkar, ogah polisi, tapi dengan segala bujukan, akhirnya dia bersedia menerima mobil apa saja. Saat genjot-menggenjot, tentu bapak-ibunya yang kudu kerja keras, sementara anak jadi sopir mobil sambil terngakak-ngakak. Maklum, karena pompanya keras, mamaknya sampai menggenjot dengan melompat-lompat (itu juga karena ukuran yang *uhuk* petite :p). Wahana ini berhasil dilewati dengan kerja tim yang bagus dan membawa senyum di seluruh anggota keluarga. Sayangnya karena sibuk menggenjot dan menyemprot, nggak ada yang sempat memotret!

Perjalanan dilanjutkan ke Land of Adventure. Beberapa wahana dilewati karena antreannya yang ngaujubilah bin zalik, rata-rata menunjukkan penanda waktu antre selama 60 menit. Tibalah kami di depan wahana Beetle Bounce. Antreannya moderate kalau tidak boleh dibilang tidak ada. Si bapak mau naik, anak tadinya ogah, tapi setelah dibujuk-bujuk, dia mau naik. Eh, saat tiba giliran kami, ternyata ini wahana khusus anak-anak (pantes nggak ada yang antre), jadilah bapak-ibu nunggu di luar. Anak bersedia naik sendiri. Saat tempat duduk ditarik ke atas dan dinaik-turunkan beberapa kali, dia bahkan berteriak-teriak senang. Usai main, tentu saja anak minta mengulang wahana ini. Jadi dia kembali mengantre.

Kami lanjut ke Imagination, sementara itu langit makin mendung dan hujan rintik mulai turun. Kami mengantre di Lego Studio. Ternyata antreannya puanjaaangnya… jreeeng! Saat sudah mencapai pintu studio pun, kami masih harus menunggu beberapa lama lagi. Untungnya anak nggak rewel menunggu sekian lama. Film 4D-nya sendiri tidak mengecewakan dan seru banget! Anak sampai sibuk berdiri dari kursinya untuk mencoba meraih tokoh-tokoh Lego yang seolah melompat keluar dari layar.

Keluar dari bioskop, hujan! Panas yang memanggang tadi lenyap entah ke mana. Meneduh, kami masuk ke Build & Test. Tentunya kami bukan satu-satunya keluarga yang punya pikiran itu dong, hingga aula yang lumayan luas ini penuh sesak. Sulit mencari spot yang kosong bagi si kecil duduk dan berkreasi dengan Lego-nya, tapi akhirnya kami berhasil menemukan satu spot kosong---yang tadinya minus kursi, tapi dengan sedikit kesabaran dan kerajinan mengelilingi ruangan kami berhasil men*uhuk*curi kursi. Anak pun mulai sibuk membuat mobil Lego. Tapi, di mana rodanya? Sama sekali tidak ada roda dalam boks potongan Lego yang tersedia di meja. Ow-ow, ternyata roda harus dimintakan ke konter. Kembalilah si bapak harus antre demi roda. Setelah mobil terbentuk, anak dan bapak pergi ke track untuk mengujicobakan mobil ini. Mobil buatan anak lebih kecil daripada buatan saingan-saingannya, tapi balapan is balapan, seru is seru.

Bosan di sana, kami menerobos hujan mencari makan. Kami akhirnya makan di wilayah Lego Kingdom. Makanan yang tersedia fast food standar, dan menurut kami mahal. Kami memesan sosis-kentang goreng dan dua ayam bakar, plus minum, harganya sekitar RM65 (dikurs sendiri ya).

Hujan yang tiada henti membuat mood bermain makin turun. Selain itu, antrean tetap mengular di mana-mana, dan banyak wahana yang langsung membuat kami mundur karena persyaratan tinggi badan atau usia (sementara di wahana yang mengizinkannya main, anak malah mogok). 

Setelah makan, akhirnya kami masuk ke Miniland. Untuk Legoland Malaysia ini, Miniland-nya terdiri atas bangunan-bangunan yang mewakili kawasan Asia. Sungguh sayang, Indonesia kok diwakili Tanah Lot. Bukan hanya bangunan puranya didirikan di atas batu-batuan (bukan dari Lego tapi dari semen), tapi pura ini juga digambarkan penuh orang, sesuatu yang kok kayaknya jauh dari kenyataannya ya, jadi saya sih kurang sreg.

Yang saya kagumi di Miniland ini adalah Taj Mahal dan bangunan dari Thailand. Keren betul! Sementara yang buat anak keren adalah situasi kota, Kuala Lumpur dan Johor Bahru, tentu karena banyak mobil, kereta, bus, dan alat transportasi lainnya.

Akhirnya, kunjungan kami tutup dengan belanja. Ada dua toko besar di dekat gerbang. Satu The Big Shop, yang tentu saja lebih besar ukurannya, dan lucunya juga menjual berbagai macam benda non-Lego misalnya kostum balet dan kostum superhero (huh?). Tapi yang lebih menarik adalah The Brick Shop. Untuk die-hard Lego fans, toko ini lebih penting karena di sini kita bisa memilih potongan Lego dari kotak-kotak yang dijajar di tembok sesukanya. Hasilnya bisa ditimbang. Memilih potongan Lego sambil membayangkan mau membuat kreasi pribadi apa tentu lebih menantang daripada sekadar membeli Lego kotakan yang sudah pasti akan jadi apa. Si bapak ikutan memilih dan menimbang potongan Lego, yang akhirnya setelah dirakit di hotel menjadi dua mobil kecil. (Tip: mengambil dan memilih Lego sambil merakit mungkin akan memuaskan dan mendapat lebih banyak.)

Nah, kesimpulan? Apakah kami bersenang-senang di Legoland? Hmm… tingkat kesenangannya saya pikir moderate saja. Tidak senang banget, mungkin banyak kesalnya juga---tapi kekesalan ini cukup berkaitan dengan cuaca (terik banget langsung jatuh ke hujan deras) dan tingkat antrean. Tapi apakah kami lalu membenci Legoland dan menyesali trip ini? Tidak juga. Apakah kami akan kembali ke Legoland? Ya! Mungkin lima-enam tahun lagi ketika pohon-pohonnya sudah lebih rimbun dan tingkat antreannya cukup masuk akal. 

TIP ke LEGOLAND

  1. Bawa topi dan pakai sunblock
  2. Bawa payung dan jas hujan
  3. Siap antre (siapkan game/tema obrolan dengan anak, plus siap snack dan air minum). Di beberapa wahana disediakan meja Lego, hingga anak bisa merakit Lego sambil mengantre. Tapi saya lihat jarang yang menggunakan fasilitas, mungkin karena anak lebih suka berada dekat orangtua yang terus bergerak maju dalam antrean
  4. Perhatikan penanggalan dan sebisa mungkin hindari hari libur di Malaysia
  5. Bus dari terminal JB Sentral, bagian bawah. Kembali ke JB Sentral dengan bus yang sama
  6. Legoland juga bisa dicapai dengan taksi dari depan stasiun JB Sentral. Untuk kembali dari Legoland ke JB Sentral, taksi harus dipesan lewat telepon.

Penulis:

Donna Widjajanto : A Traveling Mom, Penulis Buku, Editor & Ibu dari Mika 

Beberapa buku yang pernah ditulis oleh Donna Widjajanto: 

1. "Traveling with Tots ~ Jalan-jalan Aman, Nyaman & Senang dengan Balita Tersayang"

2. "Traveling with Kids ~ Liburan Kreatif,Seru & Sarat Makna Bersama Anak Tercinta"

3. "Green Traveling ~ 101 Tips Cerdas Traveling Hemat & Asyik "

4. "When Author Meets Editor ~ Cara Jitu Jadi Pengarang NOvel Laku"

Follow her twitter: https://twitter.com/cdonnaw

Facebook: http://www.facebook.com/donna.widjajanto

 

 

You need to Login or Register to post a review


Recommended Hotels & Restaurants


You need to Login or Register to ask a questions


You might also like this place

Download Our Apps